BIOGRAFI KH. DACHLAN SALIM ZARKASYI

 

 

KH Dachlan Salim Zarkasyi

Foto KH. Dachlan

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi seisinya, yang telah melimpahkan anugrah kepada kita semua. Hingga saat ini kita masih merasakan anugrah itu yang berupa kesehatan, keimanan dan mahabbah orang-orang yang terpilih menjadi Ahlul qur’an.

Sholawat dan salam mari kita sanjungkan ke pangkuan insan terpilih, insan teladan sepanjang zaman dan penerima wahyu dari ar-Rohman berupa al-Qur’an yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang.

Syukur dan terimakasih kepada Allah yang telah mempertemukan kita kepada seorang guru al-Qur’an yang sangat arif dan penuh wawasan, pendobrak system pengajaran yang sudah lama yang berjalan dari zaman ke zaman, penerima ilmu dari Allah SWT. Untuk mempersatukan umat dari berbagai kelompok dan golongan, sehingga merasa satu dan bersatu dalam tujuan. Yaitu, menyebarluaskan ilmu baca al-Qur’an yang benar, fasih dan penuh keikhlasan. Beliau adalah al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi yang sangat teliti dan hati-hati di setiap langkah yang dilalui.

Menurut kami beliau adalah

1. “Seorang waliyullah yang sangat amat pandai dalam menyembunyikan kewaliannya”

Pada suatu saat saya sowan silaturrahim, kebetulan tidak ada tamu selain saya. Beliau mengajarkan kepada saya tentang tawadhu’, ilmu sufi, sampai beliau menjelaskan dengan cerita si A, si B dan seterusnya semua itu waliyullah. Ada sebuah foto yang beliau tunjukkan kepada saya seraya dawuh, “Ini adalah waliyullah yang sangat pandai menyembunyikan kewaliannya”. Berhubung saya belum kenal yang di foto itu, saya bertanya “Siapakah ini yai?” beliau menjawab, “Beliau adalah Gus Mik”. Kemudian saya matur secara sepontan, mungkin di luar kesadaran saya, “Kalau begitu Pak Kyai juga waliyullah karena

لا يعرف الولى الا الولى

Sambil wajah beliau menunduk dan berkaca-kaca beliau diam dan tidak berkomentar. Menurut pendapat saya diamnya beliau adalah menunjukkan bahwa tebakan saya adalah benar berdasarkan firman Allah:

اللهُ وَلِىُّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِصلى

Artinya, “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”. (al-Baqoroh:257)

2. “Beliau adalah seorang hafidz yang amat sangat pandai menyembunyikan kehafidhaannya”

Beliau sering dawuh kepada saya, “Alhamdulillah guru al-Qur’an saya semua hafidh”.

TPA Darul Istiqomah, saya termasuk orang yang ikut khidmat di sana. Tempo dulu, setiap anak khotam ijazahnya ditandatangani oleh al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi (Pengasuh TPA Raudlotul Mujawwidin). Pada khotam ke tiga tahun 1993 yang khotam di TPA Darul Istiqomah ada 100 anak, seperti biasa saya sowan ke Semarang mohon tandatangan beliau dengan ijazah yang sudah tertulis rapi. Nama Bapak K.H. Dahlan, kami kasih tambahan AL HAAFIDH. Dengar tutur bahasa yang tidak menyakitkan hati, beliau berkata, “Saya ndak berani nandatangani”. Saya berkata, “Kanapa yai?”. Beliau menjawab, “Saya kan tidak hafidh, kok ditulis al-hafidz. Maaf ya, dibetulkan nanti saya akan tandatangani”. Dengan hati marem tapi penuh harap, saya pulang ke kudus untuk membenahi ijazah.

Walaupun begitu hati tetap percaya dan yakin, bahwa Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi adalah seorang hafidh. Buktinya, setiap ada orang baca al-Qur’an, satu ayat bahkan satu kalimat saja beliau sudah bisa menyimpulkan karakter bacaan orang tersebut.

Suatu hari ada tamu seorang hafidh dan minta ditashih. Beliau dawuh, “Sudah ndak usah, langsung serahkan saja foto dan identitas anda, nanti akan kami buatkan Syahadah”. Peristiwa semacam ini berulangkali terjadi, berpuluh-puluh para hafidh yang ingin ditashih Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi. Pada akhirnya suatu hari saya sowan silaturahim. Beliau sudah duduk diruang tamu, setelah saya salam dan salim, seperti biasa dengan senyum has, saya dipersilahkan duduk. Tidak lama kemudian Pak Bunyamin membawa dua cangkir teh. Satu untuk yai Dahlan satu untuk saya. Kemudian Bapak K.H. Dahlan bercerita, “Kemaren ada tamu seorang hafidh minta saya tashih, kemudian saya niat ngaji (berguru dengan orang itu). Akhirnya kami tashih, ternyata menurut aturan Qiraati orang itu belum lulus, karena banyak kesalahan”. Dengan peristiwa itu, walaupun hafidh tetap harus ditashih.

Bahkan beliau dawuh kepada saya, “Pak Halimi bila ada orang hafidh minta di simak bacaannya, simak saja dengan niat ngaji pada orang itu” kata-kata itu yang menjadi kami mau menyimak bacaan orang-orang yang kami tidak kenal.

Bukti bahwa Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi adalah seorang hafidh adalah dawuh seorang waliyullah di Moga Pemalang Mbah Nor Moga.

Kyai Dahlan cerita, “Saya itu orang yang senang ziarah silaturahim pada waliyullah, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Pada suatu hari saya silaturahim ke Mbah Nor Moga. Di sana banyak tamu, sampai rumah beliau penuh dengan tamu. Berhubung saya datangnya kari (belakangan), maka saya duduk di pojok ruangan”. Mbah Nor berkata, “Ngaji al-Qur’an 2 tahun apal al-Qur’an iku biasa, 2 bulan apal, biasa. Dua hari apal, yo biasa, seng luar biasa, ono wong ngaji al-Qur’an 2 daqiqoh (2 detik) apal, iku luar biasa. Iki ono wonge neng kene (ada di sini) opo sampean ora pengen weruh wonge?” tanya Mbah Nor pada para tamu. Para tamu serentak jawab, “Inggih kepengen mbah”. Kemudian Mbah Nor jawab sambil menunjukkan jarinya ke arah pojok ruangan (Pak Yai Dahlan), “Iku lo wonge”. Semua wajah berpaling memandang pak Yai Dahlan. Kemudian Yai Dahlan bilang pada saya, “Saya bingung waktu itu, wong saya tidak apal kok dibilang apal al-Qur’an”.

Untuk kami (Achmad Chalimi) yakin dengan haqqul yaqin bahwa al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan adalah seorang hafidh.

Bukti bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah seorang yang hafidh, pada waktu beliau wafat banyak teman-teman Bapak K.H. Dahlan yang bilang pada ustadz Bunyamin bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah seorang hafidh. Bahkan ada seorang teman beliau memaksa pada ustadz Bunyamin untuk bersaksi bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah hafidzh dengan kalimat, “Bunyamin kamu harus bersaksi bahwa ayahmu itu hafal Qur’an”. Ustadz Bunyamin menolak kesaksian itu, namun teman Yai Dahlan tadi memaksa pada Ustadz Bunyamin. Akhirnya, ustadz Bunyamin bersaksi bahwa ayah adalah seorang hafidh. Jawab teman Yai tadi, “Gitu dong, tinggal bersaksi saja kok ndak mau”.

3. Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi adalah seorang tawadhu’ tidak mementingkan diri sendiri, melainkan yang dipentingkan adalah masalah umat. Sangat menghormati tamu, melalaikan kehormatan pribadi. Setiap tamu yang datang pasti disambut dengan senyum dan tutur kata yang membuat tamu merasa krasan dan betah di sampingnya.

Pada suatu hari ada seorang yang kebingungan dalam hidupnyadatang bertamu. Seperti biasanya tamu tadi disambut dengan senyum dan tutur kata yang indah. Tamu yang berinisial M.N. bicara banyak. Akhirnya berkata pada beliau, “Pak Dahlan, saya ini orang yang benci agama, agama yang paling saya benci apa pak Dahlan tau?” Tanya tamu tadi. Beliau menjawab, “Ya ndak tahu”. Kemudian tamu tadi menyahut kata-kata, “Agama yang paling saya benci adalah agama Islam”. Beliau tidak marah, tapi senyum manis yang menyambut sambil mempersilahkan tamu tadi minum teh yang telah disuguhkan. Tamu tadi terheran-heran kenapa pak Dahlan tidak marah? Kemudian tamu tadi pamit pulang, beliau mengantar sampai teras. Setelah tamu tadi agak jauh beliau masuk rumah.

Pada hari berikutnya tamu M.N. tadi datang lagi, dan seperti biasanya, disambut dengan senyum has beliau, dipersilahkan duduk, kemudian disuguhi air teh. Tamu tadi juga berkata yang sama, “Pak Dahlan, saya adalah orang yang benci agama, dan agama yang paling saya benci adalah agama Islam”. Dengan senyum dan tutur kata yang indah, tamu tadi dipersilahkan minum teh, bahkan diajak makan siang bersama. Setelah makan dan minum tamu tadi berpamitan sambil heran kenapa pak Dahlah tidak marah, malah diajak makan siang bersama. Kemudian beliau antar tamu tadi sampai di luar. Setelah agak jauh baru beliau masuk rumah.

Di hari ke tiga tamu tadi datang lagi. Setelah dipersilahkan duduk tamu tadi bilang, “Pak Dahlan tolong saya diajari sholat dan ngaji!” Dengan merasa terharu yang disembunyikan beliau, beliau menjawab, “InsyaAllah silahkan datang kapan saja, akan kami ajarkan sholat dan ngaji” Akhirnya M.N. menjadi seseorang yang paling tekun dengan bimbingan beliau. Sampai dengan pergi ibadah haji, beliau yang membimbing

سبحان الله والحمد لله

Pada tahun 1996 kami merasakan betul perhatian dan keprihatinan beliau terhadap masalah pendidikan al-Qur’an, khususnya di Kudus. Karena tajamnya pikiran dan felling beliau, sebingga beliau merasakan adanya pelaksanaan amanah koordinator cabang (korcab) yang dulu disebut dengan istilah koordinator daerah (korda) yang asal-asalan. Di Kudus -sebagaimana yang kami ceritakan- terdapat dua Korda, yaitu Korda I dan Korda II. Akhirnya beliau dawuhi ustadz Bunyamin untuk super visi (turba) ke Kudus dengan cara merekam keberhasilan anak didik tentang bacaan Qiraati dan al-Qur’annya. Ustadz Bunyamin didawuhi merekam TPQ bimbingan Korda Kudus I yang kurang berhasil dan TPQ Korda Kudus II yang terbaik, nenengah dan kurang berhasil.

Karena waktu yang kurang memadai, maka ustadz Bunyamin mengajak kami mendatangi 3 TPQ bimbingan Korda Kudus II. Yaitu:

1.TPQ Tashilul Murottilin Kudus Kota                                        (terbaik)

2.TPQ… Peganjaran                                                                 (sedang)

3.TPQ Roudlotul Mujawwidin Sambeng Karang Malang             (kurang berhasil)

Bacaan santri TPQ tersebut direkam oleh ustadz M. Saifuddin yang waktu itu menjabat Sekretaris Korda Kudus I. Bahkan, ditemukan KBM dari salah satu TPQ tersebut ada guru yang mengajar 3 anak sekaligus dengan jilid yang berbeda. Kami memperhatikan ustadz Bunyamin sangat sedih dan setiap saat sering tarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala. Kami pun diam dan tidak berani bicara panjang lebar karena kami merasa ikut menjadi bagian orang Kudus. Hal tersebut menjadi guru besar kami untuk introspeksi diri dan mawas diri. Kurang lebih jam 5 sore, ustadz Bunyamin mengajak kami berpamitan pulang. Kami pun tambah bingung “kok gitu ya?” (istilah kami nyolok moto).

Sepulang dari Kudus, hasil rekaman tersebut dihaturkan pada beliau Bapak K.H. Dahlan. Setelah kaset disetel dan didengarkan, beliau sedih sambil terus-menerus membaca istighfar. Kesedihan beliau adalah tanda bakti perhatian beliau terhadap pendidikan al-Qur’an dan wawasan beliau tentang nasib guru pengajar al-Qur’an yang sembrono. Karena kita mengajarkan 1 kalimat saja dari al-Qur’an salah, maka kita akan “pesiun dosa”. Maka dari itu beliau berwasiat, “Jangan ajarkan al-Qur’an yang salah, karena yang benar itu mudah”. Wasiat ini adalah kendali yang kokoh dan luar biasa bagi kita sepanjang zaman. Mari kita sadari!

Setelah mendengarkan semua hasil rekaman dari Kudus tadi. Kemudian beliau memberikan tugas kepada ustadz Bunyamin untuk silaturahim ke Gus Ulin Nuha Arwani. Ustadz Bunyamin pun datang ke Kudus mengajak kami sowan ke Gus Ulin, namun akhinya kami bertemu di rumah Gus Ulil Albab Arwani. Ustadz Bunyamin kami derekke dengan pengurus Korcab I: KH. A. Musyaffa’ al-Hafidh, Ustadz M. Saifuddin dan saya (Achmad Chalimi). Dan dari pihak Korcab Kudus II: KH. Ulin Nuha Arwani al-Hafidh, KH. Ulil Albab Arwani al-Hafidh dan KH. Manshur al-Hafidh. Kemudian ustadz Bunyamin menjelaskan maksud kedatangannya adalah perintah dari beliau bapak KH. Dahlan untuk melaporkan hasil di Kudus khususnya di 3 TPQ dan menyerahkan hasil rekaman tersebut.

Setelah bicara banyak membahas kesana-kemari, tentang proses KBM TPQ di Kudus dan hasilnya, maka beliau dan pengurus Korcab Kudus II sepekat untuk mengadakan pembenahan-pembenahan, dan akhirnya diselenggarakan pertemuan sekaligus pembinaan istilah dulu) di MAK Banat Krandon.

Pada tahun yang sama sekitar 1996 bulannya saya lupa, ada rombongan tamu dari Kudus bersilaturahim. Seperti biasa tamu disambut dengan senyum dan tutur kata yang indah. Setelah beliau berbicara tentang hal-hal yang menyangkut pendidikan al-Qur’an. Satu ustadz dari rombongan tadi mohon ditashih oleh beliau. Jawab beliau, “Tidak usah, saya yakin dari Kudus al-Qur’annya baik-baik karena Mbah Arwani”. Namun ustadz tadi memaksa, akhirnya dia ditashih oleh beliau. Namun, baru disuruh baca Qiraati jilid VI halaman 20 saja sudah banyak yang salah baca. Apalagi lembaran-lembaran yang ditulis oleh beliau, tentu banyak lagi salahannya. Akhirnya beliau berkata, “Berhubung ustadz bacaannya banyak yang salah, maka menurut Qiraati ustadz tidak lulus”. Kemudian ustadz tadi menjawab sambil menunjukkan syahadah dari Ma’arif Kudus berkata, “Saya kan sudah lulus tashih di Kudus. Ini buktinya dari Ma’arif, saya dikasih Syahadah”. Jawab beliau, “Karena ustadz banyak salah baca, maka mnurut Qiraati ustadz tidak lulus”.

Rombongan pulang, kemudian di Kudus heboh ada kata-kata yang tersebar “Bapak K.H. Dahlan mengatakan bahwa Ulama’ Kudus tashihnya tidak sah”: Kata-katanya diplintir untuk mengobati kekecewaan. Kudus semakin memanas situasinya. Akhirnya kesepakatan Penguras Ma’arif dengan Qiraati pusat mengadakan tashih ulang yang diadakan di MAK Banat Rrandon dirawuhi Ustadz Bunyamin dan ustadz Imam Murjito. Tashih diadakan 2 hari dengan jumlah peserta 140 ustadz-ustadzah. Hari pertama 70 orang yang lulus 8 orang. Hari kedua 70 orang yang lulus 12 orang. Dari 140 orang yang lulus 20 orang.

Dengan hasil kelulusan yang kurang memuaskan, di antara peserta ada yang bicara di forum, “Bapak, kami ini adalah guru-guru yang sudah lama mendidik al-Qur’an, tapi kenapa hasilnya kok seperti ini, ini berarti bapak menjatuhkan kami” dengan kecewa ustadzah itu berbicara kepada ustadz Bunyamin. Jawab ustadz Bunyamin, “Bapak ibu, ustadz ustadzah, kami dari Semarang datang ke sini (Kudus) bukan menjatuhkan bapak ibu, namun membangkitkan bapak ibu”. Namun, jawaban yang bijaksana dari ustadz Bunyamin itu tidak bisa diterima dengan logowo.

Akhirnya situasi di kalangan Korcab Kudus II (dulu ada dua koordinator) dengan semarang semakin panas, sampai ulama Kudus mengecab “al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi berani mengatakan ulama Kudus tashihnya tidak sah”.

Kami (korcab Kudus I) menjadi gelisah atas situasi yang meresahkan umat. Bahkan mencaci dan memojokkan Bapak K.H. Dahlan. Akhirnya kami (Achmad Chalimi) mohon izin kepada Bapak K.H. Dahlan untuk menemui K.H. Sya’roni al-Hafidh demi ketentraman dan keharmonisan umat Namun jawab Bapak K.H. Dahlan, “Tidak usah”. Kami pun tidak berani menemui K.H. Sya’roni al-Hafldh. Situasi semakin menjadi-jadi, kami pun minta izin lagi kepada Bapak K.H. Dahlan, namun beliau tidak mengizinkan. Yang ketiga kali kami minta izin kepada beliau untuk menemui K.H. Sya’roni al-Hafidh. Kami mengutarakan alasan, “Pak yai” matur kami kepada beliau, “kami tidak rela pak yai dimaki-maki dan dijelek-jelekkan oleh orang, mohon diizikan saya tak menjelaskan kepada yai Sya’roni atas peristiwa rombongan dari Kudusyang salah satunya minta ditashih oleh pak yai. Akibatnya terjadi kerenggangan di antara kita”. Namun, jawab beliau, “Tidak usah. wong saya yang dijelek-jelekkan kok kamu yang tidak rela!!!”

Karena tiga kali kami isti’dzan tidak diijini, maka terpaksa kami sowan K.H. Sya’roni tanpa izin dari beliau. MasyaAllah hasilnya saya kualat (terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hati). Itulah di atara sifat mahmudah dari beliau (Bapak K.H. Dahlan). Andaikata apa yang kami lihat, kami tahu dan apa yang kami saksikan dari beliau kami beberkan di sini mungkin satu minggu tidak rampung.

4. Bapak K.H. Dahlan adalah seorang ulama yang sangat istimewa dan sangat tawadhu’ namun pandai menyembunyikan keistimewaannya. Sangat memikirkan umat, dengan tulus ikhlas tanpa pamrih dan siang malam yang dipikirkan adalah umat dari segala aspek.

Kami pernah didatangi beliau + 1995 siang-siang + jam 2 siang. Beliau naik angkut umum dengan ustadz Fuad Zen. Kedatangan beliau mengejutkan kami, beliau berkata, “Pak Halimi hari ini di Kudus ada khataman di desa Japan Colo (gunung Muria) tolong saya diantar” berhubung beliau tidak membawa kendaraan sendiri, maka kami cari mobil. Namun, hanya mendapat mobil yang tidak layak dinaiki beliau (mobil baru mau dicat, jadi masih didempul).

Sepanjang jalan beliau, kami pun perhatikan, Selaiu membaca hamdalah dan tasbih dan matanya berkaca-kaca. Dan beliau berkata kepada saya, “Pak Halimi, andaikata saya menangis mulai bangun tidur sampai menjelang tidur kembali karena syukur, itu belum imbas atas nikmat Allah yang diberikan kepada kami. Daerah pelosok pegunungan, jalan naik-turun dan lika-liku begini kok qiraati ada, dan ilmu mengajar al-Qur’an bekembang di sini, itu semua minAllah”.

Sesampai di tempat khotmil qur’an, acara dimulai. Giliran sambutan dari beliau diucapkan M.C., namun masih menangis syukur dan menugaskan kami untuk maju mewakili beli’au. Ada seorang ustadzah yang tanya kepada saya, “Pak mau tanya, anak-anak itu loh kok kalau belajar rame dan sulit dikendalikan, akhimya pelajaran kurang difahami, bagaimani mengatasi hal tersebut?” Pertanyaan ustadzah tersebut kami jawab, “Sebelum ibu mengajar hadiyah Fatihah dulu pada Bapak K.H. Dahlan.!”

Bagaimana tanggapan beliau atas jawaban kami pada ustadzah tersebut? Beliau diam. Kesimpulan kami beliau mengizinkan meridhokan.

Ini dikuatkan oleh Habib Husain al-Yahya dari Kudus sewaktu adik saya (Ali Rif an) matur pada Habib Husain. Kata adik saya, “Bib, anak-anak ini kok suit diatur. Mohon nasehatnya!” Habib Husian bilang, “Ajak anak-anak bertawasul pada K.H. Dahlan, pasang gambar beliau, anak-anak suruh baca Fatihah untuk beliau dan pandang bersama foto beliau”. Saran dari Habib Husain tadi dilaksanakan adik saya. Dia minta foto Bapak K.H.Dahlan sama saya, padahal saya hanya punya satu foto lukisan beliau. Jawab kami, “Nanti kami mintakan pak Bin bila kami ke Semarang”. Kami dikasih dua fotonya Bapak K.H. Dahlan oleh pak Bin, satu untuk adik dan satu untuk saya. Sampai sekarang kebiasaan proses KBM di TPQ adik saya sebelum masuk kelas doa bersama membaca MT dan tawajjuh kepada guru. Hasilnya sungguh luar biasa, anak-anak tekun belajar dan KBM lancar.

Keikhlasan dan semangat yang tak kunjung padam dari Bapak K.H. Dahlan adalab suatu uswah bagi kita semua. Semoga Allah menjadikan keteladanan beliau, membawa umat termasuk kita menjadi khoiro ummah. Amin ya Robbal Alamin.

Berikut ini kami sampaikan sebuah sya’ir:

Ulama akhir terbagi dua #

Ada ulama yang istimewa

Kerja semangat punya pikiran #

Tidak berputus sama Tuhan

Ulama kedok bersemangat #

Membimbing kawau seiuruh rakyat

Hati terdorong pada nafsu #

Menuju dunia pikiraya palsu

Beliau sering berwasiat kepada siapa saja yang berkunjung, termasuk saya. Ada tiga wasiat yang sering beliau berikan kepada para muridnya, yaitu:

Guru al-Qur’an harus:       1 – Sering tahajjud

2- Sering tadarrus

3-Ikhlas

Tiga hal ini adalah kimci keberhasilan amal ibadah seseorang.

  • Tahajjud:       Ayo santri gage tangi sholat tahajjud #

Diparingi penjaluke wongkang sujud

Melek-melek wong turu gagean melek #

Yen wes melek amal sholih nggo kito dewek

Untung temen jam telune kito tangi

Yen wes tangi gage tandang sholat bengi

  • Tadarrus:      Ilmu iku dadi obor dadi damar #

Ayo ngaji mumpung Qur’an ijih gumelar

Qur’an iku mu ‘jizat yang paling agung #

Nyelametaken penyakit susah lan bingung

Qur’an hadis ijma’ qiyas sumberane #

Kanggo ngatur urip kito neng dunyane

  • Ikhlas:          Untung temen wonge ayu neng baguse #

Sayang temen atine longko ikhlase

Wadon shobar dadi kembangane jagat

Banget ikhlase ayune ngliwati adat

Niat amal wajib ikhlas ajo liyan

Banget larang koyo regane berlian

Di hari-hari saya berjumpa dengan beliau +tahun 2000 beliau mendatangi khotaman di TPQ Darul Istiqomah yang terakhir (TPQ yang kami ikut khidmad di situ) dengan keadaan fisik beliau yang menurut saya sudah seharusnya tidak bepergian, namun beliau rawuh di khotaman yang ke 10 TPQ Daml Istiqomah dengan keadaan berjalan harus dengan payah. SubhanAllah, keikhlasan beliau dan perhatian beliau pada kita menjadi kenangan sepanjang zaman. Semoga Allah menerima semua amal sholihnya dan memaafkan kehilafannya. Amin.

Pada hari Jum’at Legi Desember tanggalnya saya lupa tahun 2000, karena saya tidak bisa sowan ke Semarang, saya suruh anak saya Sucipto untuk ke Semarang. Beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau berpesan kepada anak saya lewat Pak Bunyamin, “Pak Halimi diarep-arep (ditunggu kedatangannya) oleh ayah” kata ustadz Bunyamin. Kemudian esok harinya, Sabtu Siang saya sowan ke Semarang. Saya dipersilahkan masuk kamar beliau yang sedang tiduran, oleh ustadz Bunyamin. Begitu saya mengucapkan salam, beliau yang sedang tiduran, mau duduk tapi tidak bisa karena keadaan fisik yang sangat lemas.

Kemudian saya duduk di lantai, namun beliau meminta saya untuk duduk di sebelahnya, sambil dawuh, “Pak Halimi, kok lama sekali tidak ke sini? (padahal minggu lalu saya sudah sowan)”. Kata beliau, “Saya kangen pak Halimi”. Jawab saya, “Mohon maaf yai, ini saya baru bisa sowan”. Jawab beliau dengan suara yang terteteh-teteh, “Ndak apa-apa, aku ingin pesen sama sampean”. “nggih yai” jawab saya. “semoga hidup kita diridloi Allah” kata beliau. “amin” jawab saya. Kemudian beliau berwasiat sama saya, “Mari kita ikhlas dalam berjuang dan beramal!!!” itulah kalimat akhir sekaligus wasiat akhir beliau pada kami (IKHLAS).

Semoga kami bisa belajar melakukan ikhlas dan diaku menjadi murid beliau.

Amin ya Robbal Alamin.

Oleh: Achmad Chalimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s